Laman

Sabtu, 27 Oktober 2012

Bahasa Daerah Pasca Sumpah Pemuda

Setiap tanggal 28 oktober diperingati sebagai sumpah pemuda. Sebuah momen dimana pada tahun 1928 di acara Kongres Pemuda II, para pemuda dari seluruh Indonesia menyatakan tekadnya untuk bersatu.Mereka mengucapkan pernyataan sebagai berikut:
 Dalam perkembangannya, teks sumpah tersebut mengalami perubahan, atas rekayasa Presiden Soekarno dan M. Yamin tepatnya pada tahun 1950. Perubahan tersebut menurut sejarawan JJ.Rizal adalah :
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Menjadi :
Kami putra-putri Indonesia mengakui satu tanah air, tanah air Indonesia (Sukarno-Yamin)
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Menjadi :
Kami pura - putri Indonesia mengakui satu bangsa bangsa Indonesia (sukarno-yamin)
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Menjadi :
Kami putra-putri Indonesia mengakui satu bahasa, bahasa Indonesia (sukarno-yamin)

dalam Twit JJ.Rizal mengatakan bagi sukarno dan yamin, sejarah tidak penting kebenaran faktualnya tapi visinya yg utama, bagi mereka visi kesatuan itulah yang utama.dgn kata sumpah itu mereka yang merongrong kesatuan NKRI dgn separatis adalah bukan saja pendosa politis juga mistis ide suci keindonesian.
Perubahan teks sumpah pemuda itulah yang sampai kini banyak diucapkan. Ada perbedaan yang mendasar pada butir ke tiga yaitu dari kata "menjunjung bahasa persatuan" menjadi "berbahasa satu". Hal ini berhubungan dengan eksistensi bahasa daerah seperti yang dikatakan mbah Sujiwo Tejo. Menjunjung bahasa persatuan dapat diartikan bahwa indonesia mengakui eksistensi bahasa daerah. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa penghubung antar daerah yang berbeda bahasa ibunya. Artinya bahasa daerah dan bahasa Indonesia tumbuh bersama-sama di Indonesia, bukan saling mematikan. Sedangkan pada kalimat "berbahasa satu" berarti kita sehari-hari di seluruh indonesia menggunakan bahasa yang satu yaitu bahsa Indonesia, pertanyaannya, terus bagaimana nasib bahasa daerah?.
Perubahan ini secara tidak langsung juga menciptakan seolah-olah ada strata dalam bahasa. Yaitu bahasa modern dan bahasa tradisional. Bahasa yang penting dan bahasa yang tidak penting. Aku pernah mengalami sendiri hal tersebut ketika aku menyanyikan lagu berbahasa jawa karya mbah Sujiwo Tejo, teman-temanku tertawa katanya "seleramu kok kayak gitu, senengane nembang jowo". Padahal lagu-lagu mbah Sujiwo Tejo bukanlah lagu langgam ataupun campursari, jenis musiknya adalah musik-musik seperti jazz dan blues hanya saja menggunakan bahasa jawa. Hal ini juga pernah dikeluhkan oleh mbah Tejo sendiri ia mengatakan "susah payah kita mengcomposse lagu-lagu tersebut, ketika sudah jadi oleh radio-radio diletakkan di rak lagu tradisional". Contoh lain dapat dilihat di media massa, yaitu pada sinetron-sineton atau film-film. Sebagian besar mengidentikkan orang yang berbicara dengan logat bahasa daerah yang kental dianggap sebagai orang lugu, bodoh, kampungan, kuno ataupun hanya dijadikan sumber lelucon.
Pada hakekatnya kedudukan bahasa-bahasa di dunia adalah sejajar. Namun cara pandang kita terhadap bahasa daerah menempatkan seolah-olah bahasa daerah di bawah bahasa nasional maupun bahasa luar negeri. Bukti yang paling nyata adalah keberadaan bahasa jawa. Dunia begitu mengakui keberadaan Bahasa Jawa, tak kurang dari situs web paling populer di dunia, yaitu Google, menyediakan edisi khusus pencarian dalam Bahasa Jawa, Google Nggoleki.  Selain itu situs web enslikopedia terbesar di dunia, yaitu Wikipedia menyediakan edisi khusus Bahasa Jawa dengan konten 37.290 artikel. Berdasarkan estimasi ethnologue.com, Bahasa Jawa menempati peringkat ke 11 di dunia dari segi jumlah penutur. Lebih besar dari bahasa korea yang kini sedang digandrungi para remaja di Indonesia. Lebih besar dari bahasa perancis yang dulu mempunyai banyak jajahan di berbagai belahan dunia.
Aku teringat penuturan guru matematikaku ketika SMA. Beliau bercerita tentang seorang anak pejabat yang mengambil les matematika di rumahnya. Setelah lulus, anak tersebut mendaftarkan diri di universitas terkenal di Jogja mengambil jurusan sastra jawa, hal tersebut tidak disetujui oleh orang tuanya karena menganggap jurusan yang ia ambil tidak bergengsi. Namun anak tersebut tetap pada pendiriannya meski orang tuanya tidak menyetujui bahkan tidak mengakui jurusan yang diambil anak tersebut. Karena anak tersebut cerdas setelah lulus, ada lowongan dosen dan ia diterima. Kemudian ia ditugaskan untuk kuliah s2 bahasa jawa oleh kampusnya di sebuah universitas di Belanda.Sebuah hal yang ironis dimana kita mau mempelajari bahasa sendiri namun harus pergi ke negeri orang. 
Mulai sekarang marilah kita ubah cara pandang kita terhadap sebuah bahasa terutama bahasa daerah. Tak ada istilah bahasa modern atau bahasa tradisional, bahasa penting maupun tidak penting, apalagi bahasa gaul dan tidak gaul. Jangan sampai suatu saat sumpah pemuda kita berganti menjadi "berbahasa satu bahasa 4L4Y"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar