Saya lahir dan besar di sebuah desa kecil di Purworejo Jawa Tengah. Keluarga kami hidup dalam keadaan yang pas-pasan. Bapak bekerja sebagai buruh bangunan sedangkan Ibu berjualan sayur keliling. Saat itu listrik belum mengalir secara merata. Hanya beberapa penduduk yang rumahnya sudah dialiri arus listrik. Satu-satunya hiburan yang menemani kami sehari-hari adalah radio. Radio merek National dengan empat
buah baterai itulah yang menjadi teman kami sehari-hari. Acara favorit kami adalah sandiwara radio. Pada saat itu sandiwara radio mendapatkan tempat tersendiri di kalangan masyarakat. Setiap malam kami berkumpul di ruang tengah mengelilingi radio untuk menantikan siaran sandiwara radio. Bahkan jika daya baterai sudah melemah kami harus menempelkan telinga ke radio sambil desak-desakan dengan kakak-kakakku untuk mendengarkan sandiwara radio karena tidak ingin ketinggalan ceritanya.
Sandiwara radio yang terkenal pada masa itu antara lain "Saur Sepuh" dengan tokoh utamanya Brama Kumbara dan Mantili, "Tutur Tinular" dengan tokoh utama Arya Kamandanu yang berlatar belakang kehidupan pada zaman kerajaan Majapahit. Ada juga "Api di Bukit Menoreh" yang bercerita tentang konflik yang terjadi pada masa kerajaan Pajang, Jipang Panolan dan Mataram dengan tokoh antara lain Sultan Hadiwijaya, Sutawijaya, Arya Panangsang, Ki Ageng Pemanahan, Ki Juru Martani. Kisah Sungging Prabangkara atau kisah Nyi Calon Arang silih berganti mengisi kehidupan kami sehari-hari. Ada juga yang sandiwara radio tentang kisah kakak beradik penjual jamu di jakarta bernama Juminten dan Dakem.
Keberadaan sandiwara radio memunculkan nama-nama tenar seperti Ferry Fadly, Elly Ermawati, Ivone Rose, Maria Oentoe, Anna Sambayon, Idris Apandi dll sebagai pengisi suara ada juga penulis naskah atau sutradara seperti S Tidjab, Dian Pertiwi, Niki Kosasih, dan SH Mintarja.
Kini sandiwara radio telah tergusur oleh sinetron televisi. Namun keberadaan sandiwara radio di hati para pendengarnya akan selalu di ingat. Salah satu keunggulan sandiwara radio adalah mampu menciptakan imajinasi bagi para pendengarnya atau istilah kerennya "theatre of mind". Setiap pendengar mempunyai imajinasi tersendiri terhadap para tokoh maupun suasana yang digambarkan di sandiwara radio. Ketika tokoh tersebut dihadirkan dalam film atau sinetron tak jarang akan menimbulkan kekecewaan karena berbeda jauh dengan imajinasi kita. Itulah keunikan sekaligus keasyikan tersendiri ketika mendengarkan radio.
Seperti judul lagu The Buggles "Video Killed The Radio Star". Kini sandiwara radio hanya tinggal kenangan. Yang tersisa kini hanya sinetron yang kurang bermutu. Beruntung aku sempat mengalami masa kejayaan sandiwara radio. Yang tersisa kini hanya kenangan suara gagah Ferry Fadly, suara serak-serak basah Elly Ermawati. Kini setiap pulang kampung saya selalu mendengarkan wayang kulit di radio, meski berbeda dengan sandiwara radio tapi cukup untuk mengobati rasa rindu. ceile...
Kini sandiwara radio telah tergusur oleh sinetron televisi. Namun keberadaan sandiwara radio di hati para pendengarnya akan selalu di ingat. Salah satu keunggulan sandiwara radio adalah mampu menciptakan imajinasi bagi para pendengarnya atau istilah kerennya "theatre of mind". Setiap pendengar mempunyai imajinasi tersendiri terhadap para tokoh maupun suasana yang digambarkan di sandiwara radio. Ketika tokoh tersebut dihadirkan dalam film atau sinetron tak jarang akan menimbulkan kekecewaan karena berbeda jauh dengan imajinasi kita. Itulah keunikan sekaligus keasyikan tersendiri ketika mendengarkan radio.
Seperti judul lagu The Buggles "Video Killed The Radio Star". Kini sandiwara radio hanya tinggal kenangan. Yang tersisa kini hanya sinetron yang kurang bermutu. Beruntung aku sempat mengalami masa kejayaan sandiwara radio. Yang tersisa kini hanya kenangan suara gagah Ferry Fadly, suara serak-serak basah Elly Ermawati. Kini setiap pulang kampung saya selalu mendengarkan wayang kulit di radio, meski berbeda dengan sandiwara radio tapi cukup untuk mengobati rasa rindu. ceile...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar