Laman

Sabtu, 03 November 2012

Ilmu Politik "3D"

Seumur hidup ini kali ke dua saya mengalami pemilihan kades dan ini pertama kalinya saya nyoblos karena masa jabatan kades di desaku 10 tahun. Saya merasakan bagaimana tegangnya suasanya menjelang pemilihan lurah. Suasana menjelang pemilihan lurah jauh lebih tegang daripada pemilihan bupati pileg ataupun
pilpres. Gara-gara pilkades, suasana kampung menjadi terbelah, komunikasi menjadi renggang dan butuh waktu hingga berbulan-bulan hingga tahunan untuk dapat normal kembali. Selama itu perang dingin berlangsung dalam kehidupan sehari-hari warga desa.
Sumber ketegangan ini menurut saya adalah sistem pemilihan yang berjalan selama ini sangat buruk, jauh dari yang namanya demokrasi. Panitia hanya sebatas menyelenggarakan pemilihan pada hari "H" saja. Hanya ada "KPU" tak ada "Panwaslu" atau "Bawaslu" apalagi "MK". Segala bentuk pelanggaran ditemukan dengan terang-terangan tanpa adanya tindakan tegas dari pihak yang berwenang. Inilah yang menyebabkan tensi pilkades menjadi tinggi. Para warga hanya berupaya preventif untuk meminimalisir kecurangan tanpa harus menimbulkan keributan dalam desa karena diantara mereka banyak yang masih punya hubungan saudara. Akhirnya suasana menjadi tegang, menguras tenaga, pikiran sekaligus materi. 
Orang-orang desa saya mengatakan bahwa kalau mau mencalonkan diri menjadi kades harus punya modal 3D yaitu "Dukungan, Duit, Dukun". Yang pertama yaitu dukungan. Dukungan merupakan tujuan utama dari para kandidat. Dukungan biasanya berasal dari keluarga, teman atau tetangga. Biasanya mereka melobi orang-orang yang punya pengaruh di desa untuk memberikan dukungan atau melobi orang yang berpengaruh dalam suatu keluarga besar karena biasanya di desa satu keluarga memberikan dukungan terhadap kandidat tertentu setelah melalui musyawarah keluarga. Mereka melakukan apa saja untuk dapat memperoleh dukungan. Sampai-sampai mereka menelepon keluarga yang merantau untuk pulang nyoblos bahkan ada yang menyewa Bus khusus untuk mengangkut para calon pemilih. Membuatkan KTP untuk para calon pemilih yang sudah bukan warga desa itu lagi sampai membuka warung bebas (bebas makan gratis). Suara satu orang sangat berharga sampai-sampai anak sekolah bolos sekolah atau izin pulang sekedar untuk mencoblos.
Hal yang paling penting yang perlu diperhatikan dalam pilkades adalah masalah politik uang. Politik uang inilah yang membuat biaya pilkades menjadi mahal. Politik uang dianggap sebagai hal yang lumrah dalam pilkades istilahnya adalah "bom-boman". Tentu saja "bom" yang digunakan adalah "bom" uang. Inilah yang manjadikan biayanya menjadi mahal. Tim sukses dari masing-masing kandidat berkeliling kampung untuk membagi-bagikan uang. Tidak dapat dipungkiri bahwa tak ada calon kades yang bersih dalam pilkades. Semuanya pasti memakai politik uang meski jumlahnya berbeda-beda. Mereka melakukannya karena sistemnya seperti itu, jika mereka tidak melakukannya sedangkan lawannya melakukannya maka dapat diprediksi dia akan kalah telak. Kondisi ekonomi warga desa yang pas-pasan membuat politik uang menjadi cara yang paling jitu untuk meraup dukungan terutama para ibu-ibu yang mata duitan. Namun tak semua warga mau diberi uang. Banyak juga yang menolak diberi uang, bahkan ada keluarga paspasan yang tetap menolak meski satu orang dihargai 100 ribu, itu artinya keluarganya akan mendapat 700 ribu karena ada 7 orang. Selain untuk mempengaruhi calon pemilih, pembagian uang juga berfungsi untuk memetakan potensi suara yang akan diperoleh. Jika dirasa masih kurang maka pendukung kandidat lain yang "imannya" lemah akan menjadi sasaran pemboman.
Selain dari kandidat, uang yang beredar juga berasal dari para penjudi. Orang-orang yang memasang taruhan untuk menebak siapa yang menang dalam pilkades tersebut. Biasanya mereka berasal dari luar desa. Merekalah para mafia yang mengobrak-abrik jalannya pilkades. Mereka berani menggelontorkan uang hingga puluhan juta rupiah untuk mengarahkan pilihan seseorang kepada kandidat yang dijagokannya. Merekalah yang paling dikhawatirkan para tim sukses. Oleh karena itu para tim sukses pada malam sebelum pencoblosan melakukan patroli keliling kampung. Mereka tidak tidur semalaman demi menjaga suara para pendukung. Puncaknya adalah saat subuh, orang-orang bergerilya untuk membagikan uang sedangkan yang satunya bergerilya untuk mencegahnya. pokoknya tegang deh.
Yang terakhir adalah "dukun". Dalam pilkades takdapat dilepaskan dari hal-hal non teknis seperti perdukunan. Beragam mitos seputar pilkadespun turut meramaikan sisi non teknis ini. Mulai dari siapa yang datang ke tempat pemilihan terlebih dahulu, calon kandidat yang keberadaannya disembunyikan, hingga menunggu datangnya pulung (seperti meteor terbang, konon katanya kandidat yang kejatuhan pulung maka dipastikan dia yang menang). Pertarungan para dukun pun tak kalah ramai. Bukan hanya dukun dari para kandidat namun juga dukun dari para mafia judi tersebut. Kemarin temanku menemani seorang ahli spiritual untuk menetralkan pengaruh ilmu-ilmu dukun yang beredar. Dia mengaku kewalahan bahkan sampai mengeluarkan asap hitam pekat. Percaya atau tidak tetapi itulah yang terjadi. Modusnya bermacam-macam. Ada yang menggunakan jimat, ada yang menggunakan rajah yang ditaruh di amplop "bom", ada yang menggnakan tepukan seperti hipnotis dll.
Melihat dari fakta tersebut, maka tidak heran Indonesia menjadi seperti ini. Korupsi dimana-mana, kecurangan seperti menjadi hal yang biasa. Meminjam istilahnya Pak Jokowi, bahwa membangun sebuah kota/negara dimulai dengan membangun kampung. Jika sistem pemilihan kades diperbaiki dan dilaksanakan dengan konsisten, saya optimis Indonesia akan menjadi lebih baik lagi. Kalau perlu ada mata kuliah baru di FISIP yaitu "ilmu politik desa"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar