Lembayung senja tebalut mendung.
Indahnya senja menjadi urung.
Seorang anak manusia duduk termenung.
Tatapan kosong,bak orang linglung.
Angin lembut menerpa wajahnya yang murung.
Seorang anak manusia duduk menyesali kebodohannya.
Pepatah berkata.
Hanya keledai bodoh yang terjatuh di lubang yang sama.
Dan ku tlah berkali-kali terjatuh dilubang itu.
Keledaipun tertawa, karna tak hanya dia yang bodoh di dunia.
Banyak kata tlah terucap.
Banyak senyum dan tawa tercipta.
Canda ria jenaka tak jarang berakhir luka.
Ku sadar aku telah salah melangkah.
Ingin lupakan segala masalah.
Namun justru berujung masalah.
Berharap senyum yg merekah.
Namun justru amarah yang membuncah.
Sumpah serapah, maupun wajah merah menahan marah.
Begitu tajam kau lidah.
Mungkin kau jengah denganku yang bermandikan khilaf.
Mungkin kau muak dengan mulutku yang berbusa mengucap maaf.
Lembut hatimu telah tergores.
Meski tanpa darah yang menetes.
Dosaku tlah menumpuk dan membeku bagai es.
Maafmu bak sinar mentari yang mampu mencairkannya.
Ku tahu aku bukan yang terbaik.
Kucoba menjadi yang terbaik.
Meski kenyataanya tetap tak baik.
Atau mungkin ku harus pergi.
Menata hati.
Hingga kau tersenyum kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar