Suatu hari saya melihat status salah seorang teman di facebook isinya seperti ini "Tuhan saja mau memafkan umatnya apalagi kita". Kalimat tersebut sudah akrab di telinga kita. kita sering mendengarnya terutama di
tayangan televisi. Namun ada hal yang membuat aku tergelitik mendengar kalimat tersebut yaitu tentang bagaimana kita menempatkan posisi Tuhan. Kalimat "Tuhan saja mau memafkan umatnya apalagi kita" menurut saya justru menempatkan Tuhan di bawah kita. Jika diterjemahkan secara logika maka yang dapat saya tangkap adalah Tuhan yang Maha Pengampun saja mau memaafkan apalagi kita... Lho koq jadi kayak gini?. Kita semua tahu bahwa Tuhan punya sifat Maha Pengampun (Al-Ghaffar) . Jadi menjadi sesuatu yang wajar jika Tuhan memaafkan kesalahan umatnya karena itu merupakan sudah jadi sifat-Nya. Jika Tuhan menghendaki maka akan menjadi kenyataan (kun fayakun) termasuk memaafkan kesalahan umatnya. Sekarang jika dilihat dari sisi manusia, tentu wajar jika kita kadang-kadang sulit untuk memaafkan karena memang tidak ada manusia yang sempurna termasuk dalam mengelola emosi. Daripada membandingkan dengan Tuhan lebih baik kita berdoa agar kita/orang lain diberi kelapangan hati agar mudah memberi maaf. Unntuk lebih jelasnya Coba bandingkan kalimat tadi dengan kalimat berikut. "Hitler yang kejam aja mau memaafkan apalagi kita" mana yang lebih tepat?. Atau kalimat yang sejenis misalnya "Tuhan saja tahu apalagi kita". nah lho..
tayangan televisi. Namun ada hal yang membuat aku tergelitik mendengar kalimat tersebut yaitu tentang bagaimana kita menempatkan posisi Tuhan. Kalimat "Tuhan saja mau memafkan umatnya apalagi kita" menurut saya justru menempatkan Tuhan di bawah kita. Jika diterjemahkan secara logika maka yang dapat saya tangkap adalah Tuhan yang Maha Pengampun saja mau memaafkan apalagi kita... Lho koq jadi kayak gini?. Kita semua tahu bahwa Tuhan punya sifat Maha Pengampun (Al-Ghaffar) . Jadi menjadi sesuatu yang wajar jika Tuhan memaafkan kesalahan umatnya karena itu merupakan sudah jadi sifat-Nya. Jika Tuhan menghendaki maka akan menjadi kenyataan (kun fayakun) termasuk memaafkan kesalahan umatnya. Sekarang jika dilihat dari sisi manusia, tentu wajar jika kita kadang-kadang sulit untuk memaafkan karena memang tidak ada manusia yang sempurna termasuk dalam mengelola emosi. Daripada membandingkan dengan Tuhan lebih baik kita berdoa agar kita/orang lain diberi kelapangan hati agar mudah memberi maaf. Unntuk lebih jelasnya Coba bandingkan kalimat tadi dengan kalimat berikut. "Hitler yang kejam aja mau memaafkan apalagi kita" mana yang lebih tepat?. Atau kalimat yang sejenis misalnya "Tuhan saja tahu apalagi kita". nah lho..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar