Masih tentang sedekah, terinspirasi dari artikelnya Mbak Ilyani Sudardjat.
Tadi siang waktu lagi asyik-asyiknya menyantap mie ayam langganan ada
anak muda mendekatiku. Pakai kemeja rapi berdaasi plus celana pensil
warna coklat. “Met siang kakak, maaf mengganggu sebentar”. Dia kemudian
memperkenalkan diri sebagai seorang relawan dari sebuah yayasan yang
membantu para pasien kanker. Ia menyodorkan sebuah buku kecil sambil
menjelaskan bahwa yayasan itu butuh dana untuk membangun rumah singgah
untuk pasien kanker. Dengan menulis nama di buku tersebut kemudian
disobek oleh dia sebagai bukti. Ia juga menunjukkan beberapa sobekan
kertas yang telah diisi orang. “Tadi saya bawa 25 lho kak, ini tinggal
5, klo kakak mau mengisi nanti dapet diskon di tempat-tempat makan yang
jadi sponsor kami” jelasnya sambil menunjukkan nama-nama restoran yang
katanya jadi sponsornya. Di situ tertulis, hemat sampai 1 juta rupiah.
Selasa, 11 Maret 2014
Minggu, 09 Maret 2014
Jln Bingung
Hidup di kota besar berbeda dengan di
desa *rumput yang bergoyang juga tau*. Kalau di desa jarak antar rumah
yang satu dengan yang lainnya antara selemparan batu sampai selemparan
mortir, sedangkan di kota hanya selemparan upil. Rumah-rumah berhimpitan
seperti orang pacaran, nyaris tak menyisakan ruang lagi. Anak-anak
bermain di jalan-jalan gang karena tak ada area bermain, kalupun ada
letaknya juga jauh. Dengan tetangga satu gang ada yang tidak kenal
apalagi yang beda gang. Yang saya alami jangankan dengan tetangga satu
gang, nama gang sendiri saja kadang lupa.
Ceritanya gini, Dulu gang tempatku
nginep bernama Gang Cinta Laura 5. Namun seiring pesatnya pembangaunan
sekitar bertambahlah beberapa gang baru, nah daripada bingung, oleh
kelurahan nama gang diubah sesuai urutan, hasilnya gang ku kini jadi
Gang Cinta Laura 8. Kadang saat ngisi form-form sering tertukar antara
Gang Cinta Laura 5 atau Gang Cinta Laura 8. Kalau udah terlanjur mengisi
Gang Cinta Laura 5 tinggal bilang aja “itu nama gang yang lama”.
Langganan:
Postingan (Atom)