Salah satu acara TV favoritku adalah Si
Bolang di Trans 7. Si Bolang menampilkan kehidupan anak-anak dari
seluruh penjuru nusantara, sebuah acara yang menarik ditengah minimnya
tontonan untuk anak-anak sekarang ini. Meski kini aku bukan bocah lagi,
namun acara tersebut mengingatkanku pada kenangan-kenangan waktu kecil
dulu. Dulu setelah pulang sekolah, anak-anak begitu bersemangat untuk
pulang kemudian ganti baju trus bermain bersama teman-teman. Mulai dari
main sepak bola, petak umpet, perang-perangan, nyari jangkrik, nyari
ikan, ngutil rambutan/mangga (don’t try this at home), masak-masakan,
pasar-pasaran sampai mandi di kali mewarnai hari-hari kami waktu itu.
Itulah salah satu enaknya jadi anak
desa. Meski jauh dari hingar bingar dan kemewahan kota, nyatanya mereka
masih bisa menikmati indahnya romantisme desa.Bandingkan dengan
anak-anak kota, apalagi anak-anak sekarang. Jika ada dua orang anak,
yang satu dari desa dan yang satu dari kota sama-sama disuruh
menceritakan aktivitasnya setelah pulang sekolah, maka akan didapat dua
jawaban yang sangat kontras. Cerita anak desa pasti lebih bervariasi
dibandingkan cerita anak kota.
Aku melihat aktivitas keponakanku yang
masih TK, sangat jauh jika dibandingkan masa kecilku dulu. Di usianya
yang belum ganjil 7 tahun, aktivitasnya sudah sangat teratur. Pulang
sekolah ngerjain PR sekolah, kemudian tidur siang, bangun tidur terus
ngaji, pulang ngaji bersepeda di sepanjang gang rumahnya, kadang pulang
ngaji langsung les (seminggu 2 x). Habis maghrib ngerjain PR ngaji
(ngajipun kini ada PRnya) atau PR les, terus disuruh belajar sebentar
kemudian nonton TV, atau kadang jalan-jalan dengan kakakku keliling
surabaya. Begitulah aktivitas sehari-hari keponakanku. Bagiku sungguh
memprihatinkan, jika dibanding aktivitas anak-anak seusianya di kampung
halamanku.
Aku tak tega, sebagai mahasiswa keguruan, aku tahu tahapan
psikologis perkembangan anak dalam kaitannya dengan pendidikan. Namun
kakakku juga tak bisa disalahkan begitu saja. Sistem pendidikan yang
kini hanya mengutamakan kognitif, mahalnya bisaya pendidikan ditambah
minimnya lahan untuk bermain bagi anak-anak kota membuat kakakku dan
beribu-ribu orang tua terjebak di dalamnya. Ketakutan akan ketinggalan
pelajaran, hingga tidak bisa masuk sekolah negeri atau sekolah favorit,
membuat orang tua mengorbankan masa kanak-kanak anaknya yang seharusnya
lebih banyak bermain.
Jika melihat anak-anak di kampung
halamanku maupun kampung-kampung lain yang jauh dari hingar-bingar kota.
Mereka mendapat pelajaran yang sama, kurikulum yang sama hanya mungkin
fasilitasnya yang berbeda. Sepulang sekolah mereka bermain, belajar pada
malam hari, itupun kalau ada PR. Mereka tidak ikut les, tidak ada jam
tambahan pelajaran di sekolah. Namun mereka juga bisa lulus UN, beberapa
diantaranya bisa masuk sekolah favorit. Lho kok bisa ya?
Aku nggak tahu apakah anak-anakku nanti
bisa menikmati romantisme desa seperti yang pernah aku alami atau justru
hanya di rumah nonton TV, main PS dan main komputer. Yang jelas jangan
sampai mereka jadi Si Bolang (Bocah Ilang), ya bocah ilang. Bocah yang
kehilangan masa kanak-kanaknya….
***
gambar : http://www.duniapsikologi.com
twitter : @siitok_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar