Beberapa waktu lalu saya dan teman-teman berbincang-bincang di
DPR (Dibawah Pohon Rindang) mengenai kelanjutan masa depan kami setelah
lulus. Kami adalah mahasiswa tingkat akhir Jurusan Pendidikan
Kewarganegaraan di sebuah LPTK negeri di Surabaya. Topik utamanya
adalah pilihan pekerjaan setelah lulus nanti, apakah akan tetep menjadi
Guru, atau bekerja di bidang lain. Lebih dari 50% menjawab ingin bekerja
di bidang lain ataupun wirausaha. Banyak alasan yang mendasari pilihan
tersebut. Ada yang memang tidak bercita-cita menjadi guru, mereka kuliah
hanya sekedar untuk mendapat ijazah S1. Ada juga yang karena faktor
materi.
Mereka umumnya ingin jadi guru namun terbentur kenyataan
sulitnya perjuangan awal untuk jadi guru. Tidak bisa dipungkiri,
meskipun kini sudah ada undang-undang yang mengatur kesejahteraan guru
melalui sertifikasi guru, namun pada kenyataan di lapangan banyak
ditemukan fakta guru yang berpenghasilan jauh di bawah rata-rata.
Kesejahteraan yang dibicarakan hanya dirasakan guru yang berstatus
sebagai PNS ataupun guru sekolah swasta yang elit. Sedangkan bagi guru
honorer, guru-guru swasta di daerah pinggiran apalagi guru sukarelawan (guru sukwan)
masih belum terasa dampaknya.
Guru PNS bujangan golongan terendah dapat
gaji minimal 2 juta perbulan, jika ditambah sertifikasi akan mendapat
tunjangan satu kali gaji, jadi 4 juta perbulan. Memang sangat
menggiurkan, kini profesi guru mendadak menjadi idola para calon
mahasiswa. Pada SNMPTN tahun 2012 lalu para peserta yang mendaftar di
LPTK meningkat tajam.
Salah seorang teman saya ada yang sudah lulus dan mengajar di sebuah SD.
Dia mengajar setiap hari bahkan menjadi wali kelas. Ketika aku tanya
berapa gajinya, ia tidak menyebutkan angka pasti, namun ia mengatakan
jumlahnya antara Rp 300.000 - Rp 450.000 perbulan. Sangat miris, jika
dibandingkan UMK surabaya tahun 2013 sebesar 1,7 juta perbulan. Namun
itulah faktanya. bagaimana dengan sertifikasi?, sertifikasi juga butuh
biaya yang tidak sedikit. Menurut dosenku biaya untuk ikut PPG
(Pendidikan Profesi Guru) berkisar antara 16-18 juta belum ditambah
biaya yang lain-lain. Untuk kalangan tertentu itu angka yang kecil,
namun untuk kalangan yang lain, itu angka yang sangat besar. Solusinya
adalah mengikuti program Sarjana Mengajar di daerah Terdepan, Terluar
dan Tertinggal (SM3T). Mengajar di daerah pelosok selama 1 tahun dahulu
untuk mendapat beasiswa PPG. Itu bagi mereka yang sabar, dan tawakal
pada cita-citanya menjadi seorang guru.
Seorang temanku pernah curhat, ia sarjana pendidikan matematika lulusan
LPTK di Yogya. Setelah lulus ia tak kunjung mendapatkan pekerjaan karena
setiap sekolah yang ia datangi mengatakan tidak menerima guru baru
karena sekolah mengutamakan kuota mengajar 24 jam per minggu bagi
guru-guru yang sudah mendapatkan sertifikasi sehingga mereka tidak
membutuhkan guru baru. Seandainya mereka membutuhkan guru baru, mereka
lebih mengutamakan guru sekolah lain yang kekurangan jam mengajar untuk
memenuhi kuota 24 jam per minggu. Akhirnya ia memilih mengajar di LBB
dan memberi les-les privat. Mendengar ceritaku tersebut seorang temanku
langsung nyamber “Yang matematika aja kayak gitu, apalagi yang PKn,
siapa yang mau les butir-butir pancasila?”. Itulah ekspresi kegalauan
para calon guru sebuah mata pelajaran yang sering dipandang sebelah
mata. Disatu sisi kami dituntut harus s1, profesional, penuh pengabdian
& loyalitas. Namun kami tidak mau munafik bahwa kami juga butuh
uang. Setidaknya kami tidak seperti orang-orang diatas sana yang “ngaku mengabdi namun minta gaji tinggi, atau yang mengaku berdakwah namun tarifnya wahhhhh..”
Casino at Laveen Lake - MapyRO
BalasHapusCasino at 구미 출장안마 Laveen Lake is an old-school gaming 광명 출장안마 place in the Lake of Lakes, 전주 출장샵 Michigan. 전라북도 출장샵 We also operate several bars and restaurants, and 원주 출장안마 have a pool